| Pict by @Mrs_isco |
Halo para pembaca yang budiman, salam hangat untukmu semua. Apa kabarmu hari ini maupun hari yang telah lalu? Semoga selalu dalam keadaan yang baik. Dalam kesempatan ini, aku mengucapkan permohonan maaf atas ketidak konsistenan dalam menulis dan mengunggah tulisan-tulisanku. Dalam kesempatan ini juga aku menyampaikan ucapan terima kasih atas kesetiaanmu untuk terus membaca tulisanku.
***
Hari jumat sore, tanggal tujuh belas desember dua ribu dua puluh satu, pada pukul 16.45 aku menulis tulisan ini. Sore ini mendung tengah mengepung rumah, kata sebagian pujangga era tahun 2020, Mendung yang membersamai tanpa rintik hujan ataupun embusan angin itu mereka sebut sebagai "Mendung mesra." Tapi aku tak pernah bisa memastikan apakah semesra itu arti mendung dalam diri kalian.
Tulisan ini ku buat atas dasar sebuah kegelisahan yang akhir-akhir ini tengah mengusikku, mungkin tengah mengusikmu juga. Kegelisahan manusia berumur dua puluh satu yang tak pernah jauh dari hal-hal fana yang belum terjadi dalam kehidupan kita, kegelisahan mengenai apakah yang akan terjadi dalam dirimu di masa yang akan datang itu berusaha hinggap dan menguskimu tanpa permisi. Mungkin ada sebagian darimu yang sudah melewati masa ini, atau ada juga yang sedang berjuang melewati fase ini. Tapi ku yakinkan kalian bahwa kita akan melewatinya dengan mudah. Mengapa aku berkata demikian? Karena sebagian besar dari kita telah melampaui permasalahan hidup yang sama beratnya, atau mungkin lebih. Oleh karena itu, aku meyakini bahwa kita pasti akan melampauinya dengan hebat dan mudah.
Aku pernah cerita tentang hal ini kepada salah satu orang yang ku anggap selayaknya kakak di Kagem Jogja. Ia bilang bahwa hal yang aku pikirkan adalah hal yang sangat tidak perlu untuk digubris.
Dia juga berkata begini, "Gue dulu ga pernah mengklaim diri gue sendiri sedang overthinking. Karena di masa itu belum ada istilah itu. Tapi gue mengakui kalo hal itu pernah terlintas di pikiran. Tapi gue ga suka larut di dalam hal kayak gitu. Dalam kamus hidup gue, gue selalu berusaha untuk menemukan solusi yang bisa bikin gue keluar dari zona itu, bukan hanya memikirkan tanpa ada action yang nyata. Jadi, langkah yang harus lo lakuin ketika lo tau akan masalah-masalah itu, ya lo harus action. Bukan malah diam dan mikirin bagaimana nantinya. Dimulai dari hal yang lo suka deh, apakah hal yang lo suka itu dapat di kembangin dan bisa nambah value diri lo? kalo iya, lekukan dan kembangin. Dimana pun lo berada, cobalah jadi orang yang solutif. Terlebih buat diri lo sendiri."
Ucapan dia saat itu masih belum begitu bisa aku terima dan olah akan maksudnya, aku masih merasa permasalahan ini cukup berat dan melelahkan. Hingga suatu saat, aku menemukan sebuah benang merah akan keruwetan hidup manusia umur dua puluh satu tahun. Yaitu:
"Hidup bukan sebuah arena pertandingan perlombaan. Masing-masing dari kita memiliki waktunya sendiri. Jangan terlalu silau bila kau melihat orang yang sudah bisa berdiri di atas kakinya sendiri, dan bersyukur ketika melihat orang yang masih tertatih dibawahmu. Suatu hal yang indah di sosial media hanyalah maya, itu cerita tentang kebahagiaan semata. Hal itu tak patut untuk kau jadikan sebuah alasan untuk minder dan terkapar tak berdaya. Karena aku dan kau sudah memiliki waktu, jalan dan takdirnya sendiri."
Semoga ini bisa memberi energi dan dampak positif untukmu. Terima kasih telah membaca tulisan ini. Aku berharap ketika kau membaca tulisan ini merasa seperti kita tengah berbincang mengenai kehidupan. Salam hangat dan selalu sehat, kawan! :)