"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran.
Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun."
Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia.
Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku.
Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari.
Namun datang suatu malam, sebuah pesan singkat masuk. "Malam itu aku mendengarkan lagunya HIVI yang judulnya Pelangi, sampai aku ketiduran."
Aku tak tau lagu mana itu, ku coba dengarkan, sesak.
Semua ini tentang seni menjadi seorang kekasih. Bab baru yang harus ku lahap, meski bab 'peka' belum lulus, namun akan selalu berusaha dan diusahakan.
Sebuah pesan untukmu pembaca, seni yang harus dikuasai selain mencintai adalah memahami, mengilhami, dan menoleransi. Meski setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda, karena menjadi kekasih adalah seni yang tak akan pernah bisa dijelaskan.
