Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Sediakala

  Tubuh itu telah lemah tiada daya Ceria telah terenggut bersama nyawa Sebuah harapan terpendam bersama raga Hanya untaian doa-doa yang akan bersama Kini, tubuh itu tak lagi utuh seperti sediakala Hancur lebur bersama tangis keluarga Beribu kalimat pengandaian dimulai kata jika Jika kau masih ada, kita akan tertawa bersama Hey tuan sang pemilik nisan Bagaimana cerita tidur panjangmu? Kisah tahun lalu masih terasa seperti bulan lalu Semua nyata tapi terasa semu Senin, selasa, rabu, hingga minggu Engkau meninggalkan kami dalam ruang rindu Ruangan kecil yang berisi haru Pilu membiru ketika mengingat namamu Hanya satu kalimat yang terucap selalu Semoga kedamaian terus bersamamu 2 Agustus 2021

Jenuh

Dok. Pribadi Hiruk pikuk Gegap gempita nan adiwarna Membawa jiwa pada sebuah kubang asam pahit rasa Siapa yang menginginkannya? Tak seorang pun yang mau menganggukkan kepala Rasa, karsa maupun daya tak saling sapa Rasa diterpa hujan, karsa terkubur dalam, dan daya tergulung ombak Jiwa melayang-layang bersama polusi Raga babak belur ditangan kenyataan Orang bijak sering kali berkata Dibalik kata hebat, ada motivasi kuat Dibalik kata luar biasa, ada kalimat sampai disini saja Memilih keduanya merupakan hal yang fana Bagaimana tak fana jika jiwa melayang, raga babak belur, dan rasa memilih pergi bersama ego Lantas siapa yang ada di dalam sana? Hanya onggokan daging yang hambar tiada rasa dan jiwa

Pilih Pulih

  Pinterest.com Candramawa terbingkai tak berdaya Mata sayup mencoba untuk menyapa Hati di ketuk mengisyaratkan hampa Otak bertanya siapakah tuannya   Tuan terpasung dalam jerat rasa Rasa yang tak dapat dijelaskan dengan kata Tuan juga berkabung dalam sebuah rasa Rasa yang tak terbalas oleh cinta   Tubuhnya menggigil ditiup malam Karsa dan nuraga mendekap dalam temaram   Tuan terasuki bestari Pikirnya kembali seperti mentari Hati hampa kembali terilhami Cerita hidup tak melulu tentang sakit hati   Senyum di bibirnya kembali tersulam Rasa patah dalam hatinya telah padam Telapak tangannya kembali menggenggam Seluruh jiwa raganya meninggalkan muram

Temaram

  pict: Medium.com Aku dan kamu Yang berjarak antara ruang dan waktu Ruang dan waktu yang kian membelenggu diantara kata manisnya rindu Rasa rindu hanya terucap di bibir dan memberontak di dalam kalbu Satu pesan tersirat untukmu, aku sungguh menyayangimu Aku dan kamu, terpisah jauh oleh jarak Sesuatu hal yang tak nampak pasti, namun membuat kita sulit untuk bergerak Hingga rindu pun tau, bahwa masing-masing dari hati kita kian bergejolak Rasa yang tak tersampaikan, menggiring pikiran untuk kembali berontak   Karena rasa, kita dipermainkan begitu mudahnya Alih-alih berusaha, nyatanya kian tak berdaya Lagi-lagi kita duduk diujung nestapa, dengan hati sesak dan pikiran hampa Sesekali aku mengobati hati dengan melihatmu di linimasa   Diujung sore ku menatap senja, dalam rindu ku titipkan salam Langit sore telah membaur dengan temaram Rona jingga berubah menjadi buram Rasa hati yang biasanya menyala terang, kini ia meredup dan padam Aku luluh pa...