Skip to main content

Posts

Sebuah Seni

"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran. Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun." Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia. Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku. Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari. Namu...
Recent posts

Rayuan Perempuan Gila VS Eksistensi Sebagai Manusia

  Sampul lagu Rayuan Perempuan Gila Akhir-akhir ini lagu Nadin Amizah hampir selalu mengiringi setiap vidio yang ada di Tiktok maupun Instagram. Pertama kali aku mendengar lagu itu, ada warna baru dalam karyanya. Alunan yang enak didengar membuat kepo akan banyak hal tentang lagunya. Setelah aku search lagu tersebut menggunakan kata kunci yang berasal dari lirik yang terngiang: menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Mesin pencarian google menampilkan judul yang unik dan nyentrik, Rayuan Perempuan Gila. Tak perlu pikir lama, aku mendengarkan lagunya secara utuh. Pertama kali aku mendengar, aku masih fokus pada alunan musiknya: tenang, retro, berkarakter, dan khas. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Namun, tulisan ini tidak mengupas secara rinci makna dari lirik lagu Nadin tersebut. Hanya saja aku menilai secara subjektif ketika mendengarkan lebih seksama pada beberapa bagian liriknya yang mengandung pertanyaan dan pernyataan yang pernah aku rasakan. Oleh sebab...

Cerita rasa

photo by milenials.id Tak jarang aku malu pada diri sendiri ketika mengingat apa saja hal yang pernah aku lakukan kepada orang terdekatku, terutama ia yang selalu mendoakan aku dengan cara meniup kepala seusai membacakan surat-surat pendek ketika aku hendak menghadapi ujian. " Wes to, manut ae. Wong didoakan kok. "1   Katanya sesaat sebelum meniup ubun-ubunku. Tanpa melawan, aku hanya mengiyakan meski tak jarang aku tergelak. Kalau diingat-ingat kembali, begitu banyak hal yang ia lakukan dengan caranya sendiri untuk terus membuatku pede, untuk membuatku terus berjalan menapakkan kaki, untuk terus memastikan aku tidak lapar pun kehausan ketika ada satu rangkaian acara yang aku ikuti. Meski caranya kadang berbeda dari pada yang lain, namun maknanya tetaplah begitu dalam. Kini, aku baru sadar. Bahwa keras kepala dan beberapa hal sederhana yang aku miliki itu titisan darinya.  Hingga aku kembali terhenyak dan tersadar akan satu hal yang selama ini aku remehkan, namun keingina...

Cantik Itu Luka

Texas Conference of seventhday adventists (Pinterest) Cantik. Sebuah kata yang begitu subjektif untuk dinilai, pun menjadi sangat menggelora untuk didengar. Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk merias, juga mempercantik diri. Memang tak ada yang salah dari kegiatan itu. Sebagian orang lagi berkata bahwa kegiatan itu tidak untuk mempercantik, karena katanya lagi kecantikan itu relatif dan tidak bisa disamakan. Akan tetapi perlombaan dilakukan untuk medapatkan kata 'paling' mendekati kata cantik itu sendiri. Dalam tulisan ini aku mencoba mengurai sebuah duduk masalah. Duduk masalahnya bukan berada pada hal ini, kawan. Aku menuliskan ini karena mendengar suara-suara sumbang dari prespektif mereka yang dibilang cantik oleh khalayak, akan tetapi menderita oleh karenanya juga. Zaman kita ini merupakan zaman dimana orang-orang saling berlomba untuk mengejar kata viral, mengejar ketenaran, dan memilih melakukan apapun untuk ketenaran yang nyalanya tak begitu lama. Salah satu hal yan...