Skip to main content

Romansa

Gambar: Siasatpartikelir.com


"Bila kau melihat sebuah harapan pada seseorang di masa lampau tapi sekarang ia lepas begitu saja, lepaskanlah. Eyang Habibie pernah bilang bahwa yang akan menjadi milikmu tak akan pernah menjadi milik orang lain. Walau seorang lain berusaha sekeras apapun untuk mendapatkan, niscaya ia tak akan pernah mendapatkannya. Karena seseorang itu diciptakan bukan untuk orang lain, melainkan hanya untukmu. Saat ini, hal yang kamu butuhkan hanya yakin, berusaha dan melakukan hal yang kau suka. Karena dirimu juga butuh bahagia. Hanya itu, tiada yang lain."


"Perihal rasa suka kepada seseorang yang dianggap akan menjadi milikmu seutuhnya padahal fana, itu sah sah saja. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, mencintai seseorang adalah anugerah yang diberikan kepada manusia sebagai bentuk penggambaran asih tuhan kepada hambanya. Memang begitu indah apabila rasa dipupuk dan dibalas oleh sayang. Namun, menghamba pada rasa adalah kesalahan terbesar manusia ketika ingin mendapatkan makhluk-Nya. Karena hanya kepada tuhanmu lah tempat terbaik untuk berharap dan menyerahkan segalanya."


"Untukmu yang merasa lelah dan menyerah untuk mengejar dia yang begitu lincah. Rehatlah, jangan kuras air mata dan keringatmu hanya untuk memburu perhatiannya. Alih-alih perhatiannya, sapaan "Halo" di kolom chat tak pernah berbalas "Hai". Notifikasi WhatsApp yang selalu kau tunggu hingga tertidur itu tak pernah muncul ketika kau bangun. Kau tak perlu menyesal ataupun kesal, hanya saja kau perlu tau bahwa itu sebuah 'kode' jika ia bukan orang yang tepat untukmu. Sejatinya, berpasangan akan saling melengkapi, bukan mengabaikan."



Popular posts from this blog

Sebuah Seni

"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran. Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun." Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia. Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku. Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari. Namu...

Rayuan Perempuan Gila VS Eksistensi Sebagai Manusia

  Sampul lagu Rayuan Perempuan Gila Akhir-akhir ini lagu Nadin Amizah hampir selalu mengiringi setiap vidio yang ada di Tiktok maupun Instagram. Pertama kali aku mendengar lagu itu, ada warna baru dalam karyanya. Alunan yang enak didengar membuat kepo akan banyak hal tentang lagunya. Setelah aku search lagu tersebut menggunakan kata kunci yang berasal dari lirik yang terngiang: menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Mesin pencarian google menampilkan judul yang unik dan nyentrik, Rayuan Perempuan Gila. Tak perlu pikir lama, aku mendengarkan lagunya secara utuh. Pertama kali aku mendengar, aku masih fokus pada alunan musiknya: tenang, retro, berkarakter, dan khas. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Namun, tulisan ini tidak mengupas secara rinci makna dari lirik lagu Nadin tersebut. Hanya saja aku menilai secara subjektif ketika mendengarkan lebih seksama pada beberapa bagian liriknya yang mengandung pertanyaan dan pernyataan yang pernah aku rasakan. Oleh sebab...

Melihat Pendidikan Di Dalam Pondok Pesantren

  Papan nama SMP Annihayah yang terletak di gerbang Yayasan Annihayah Program kampus mengajar angkatan 3 mengantarkan saya ke sebuah kecamatan kecil di wilayah Karawang, Jawa Barat. Rawamerta, merupakan kecamatan yang terletak sembilan kilometer sebelah utara kota Karawang. Dengan kultur masyarakat islami, dengan berbagai pondok pesantren yang berdiri di dalamnya. Berbekal nekat dan pengalaman mengajar di sebuah komunitas pendidikan di Jogja, saya memberanikan diri untuk mencoba improvisasi dalam mengajar dan mencapai misi pendidikan yang diamanahkan. Dalam pembekalan pra-penugasan, peserta program kampus mengajar angkatan 3 dibekali berbagai ilmu sekaligus diamanahi untuk membawa misi literasi, numerasi dan administrasi. Hal ini seiring dengan data lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang tertinggal akan hal-hal tersebut. Apabila ditanya, mengapa saya mengikuti program ini? Padahal tidak linier dengan konsentrasi studi, serta melihat semester yang saya tempuh suda...