Skip to main content

Agus & Gonto (Kepakkan Sayap Kemanusiaan)

Dok. Pribadi

 


“Aguus...”

“Aguus..”

“Aguus..”

Teriakan suara yang sedikit melengking itu memekakan telinga. Sedangkan hari baru saja dimulai, pukul 6 pagi. Agus tergeragap meloncat dari tempat tidurnya, mencari sumber suara. Ia membuka setiap kamar kosong indekosnya, sayangnya ia tak menemukan sumber teriakan tersebut.

“Aguus..” sekali lagi teriakan itu menggema.

Agus kelabakan, nyawanya belum penuh, akan tetapi sudah dibuat bingung oleh teriakan yang memanggil-manggil namanya. Satu, dua, tiga dan begitu hingga berulang kali agus mencoba membuka kamar kosong itu. Hingga akhirnya ia menghentikan pencarian sumber teriakan itu. Ia terbelalak melihat hal yang tak biasa.

Seorang lelaki berkulit sawo matang, rambut hitam dan gigi agak lebih pede itu tengah berdiri di atas sumur. Hal yang membuat Agus semakin heran bercampur bingung pagi itu ialah lelaki tersebut hanya mengenakan celana dalam berwarna polkadot, merah hitam.

“Astaghfirullah, kamu ini lho mau ngapain Gon?”

“Gus, tahan aku. Tahan aku cepet Gus!”

“Bajingan i, kamu ini kenapa?”

“Aku mau bunuh diri, aku depresi.” Kata Gonto yang menghiasi wajahnya dengan kekusutan.

“Bunuh diri kok pake sempak, mau lomba renang opo piye?1”

“Aku kalo gak kamu tahan, lompat lho ini. Gamau nahan?”

“Yaudah coba lompat, aku pengen tau. Kamu kan dulu pinter lompat jauh?”

“Wo asu i, bikin ga mood bunuh diri aja kamu ini.” Ucap Gonto ketus.

“Gonto!” teriak Agus kaget melihat Gonto melompat.

Glubak! Terdengar suara benturan yang cukup keras. Agus menyesali perkataannya yang mengiyakan Gonto untuk melompat. Pikirannya melayang ke masa kecil, ketika mereka menghabiskan waktu bersama dengan bermain kelereng, petak umpat, gobak sodor, maupun pletokan. Tapi Agus begitu sedih dan terpukul akan satu hal, hutang Gonto belum dibayar. Gimana mau bayar kalau Gonto mati duluan?

“Heh asu! Kamu kok malah mlongo. Bantuin aku ini lho, kaki ku luka.” Kata Gonto yang berjalan dengan memegangi lututnya.

Gonto terluka karena ia melompat selayaknya lompat jauh yang mencoba menghindari lubang sumur.

“Alhamdulillah, Gonto ga jadi mati. Koe2 masih bisa bayar utangmu.”

Setelah kembali mengenakan pakaiannya, Gonto bercerita mengapa ia memiliki niatan untuk mengakhiri hidup. Ia mengaku lelah menjadi bahan cacian oleh orang lain atas penampilannya yang berbeda dan terkesan aneh. Selain itu, ia juga menceritakan tentang limbungnya prinsip hidupnya. Ia kehilangan arah tentang mengapa ia hidup dan apa tujuannya hidup.

Gonto juga menceritakan perihal kesulitannya untuk merasakan indahnya rasa mencintai dan dicintai. Ia selama ini hanya bisa mencintai tanpa merasakan balasan cinta oleh seorang wanita. Semua ini tentu karena penampilannya yang unik.

“Padahal Gus, aku kan juga manusia yang memiliki rasa cinta dan sayang. Tapi mengapa mereka selalu melihatku sebelah mata bahkan tak jarang dari mereka memandangku jijik, seolah melarang manusia sepertiku untuk merasakan cinta.” Ucap Gonto.

“Anu Gon, kalo kata mbah yai itu setiap orang akan memiliki pasangan. Jadi tenang aja. Dan perihal cinta, baik mencintai dan dicintai itu kan sebuah bonus, rasa dalam kehidupan. kamu jangan mau dibutakan oleh cinta dunia Gon. Karena cinta dari Allah itu nyata dan kekal.”

“Apa ya gitu Gus?”

“Lho ho’oh, beneran ini.”

“Terus gimana caranya aku bisa mengetahui cintanya Allah kepadaku Gus?”

“Kamu perlu peka Gon. Setiap yang kamu miliki, terutama hal yang ada pada tubuhmu itu merupakan sebuah bahasa cinta dari Allah Gon.”

“Termasuk gigiku yang offside ini Gus?”

“Lho, yaiya. Keeksotisan gigimu itu bahasa cinta Allah agar kamu terkenal dan mudah dikenal oleh orang lain. Karena kata guru kita dulu, untuk jadi dikenal orang itu ada dua cara. Jadi yang terbaik atau jadi yang terburuk.”

“Lha terus, menurutmu gigiku ini yang terbaik atau yang terburuk Gus?”

“Anu Gon,” Agus mencoba mencari jawaban dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “masalah itu gausah dipikirin sekarang. Yang terpenting kamu itu bisa bersyukur untuk semua hal yang kamu miliki saat ini. Masalah kamu ditertawakan orang lain, aku minta maaf ya Gon. Aku kan sering menertawakanmu juga to? Weslah, pokoknya gini aja. Allah itu maha pemurah, maha mendengar dan maha segalanya. Asalkan kamu mau menengadahkan tangan dan meminta, apapun yang kamu minta akan dikabulkan.”

“Gitu ya Gus?”

“Ho’oh.”

Hp nokia 6600 yang ditaruh di atas meja, bergetar. Sebuah nama tertulis dilayarnya, Burhan.

“Halo Burhan, gimana?” tanya Agus.

“Halo gus, aku boleh minta tolong ngga? Jemput aku di Terminal Giwangan jam dua sore nanti bisa gak?”

“Weladalah, koe mau ngapain di Jogja?”

“Wes, ceritanya kalo itu panjang banget. Nanti kalo sudah sampai di kosmu aku ceritain. Bisa to?”

“Ya bisa sih, tapi ...” sambungan telepon diputus oleh Burhan.

Agus diam, dalam hatinya keluar segalah sumpah serapah. Tapi aku pastikan kepada kalian bahwa sumpah serapah itu menggunakan bahasa jawa. Ia khawatir kalau Burhan menempati kamar indekosnya dalam waktu yang lama, sedangkan ia tau betul bahwa Gonto dan Burhan tak mungkin membayar uang bulanan indekosnya. Bahkan peluang untuk memberikan pinjaman uang disaat mereka tak punya uang semakin terbuka lebar. Beban itu tak hanya Gonto, akan bertambah dengan Burhan.

Burhan merupakan teman akrab Agus ketika duduk di bangku SMA. Memang ia tak seakrab dengan Gonto, tapi Burhan merupakan teman yang bisa dibilang sahabat semasa SMA. Jika dibandingkan dengan dirinya maupun Gonto. Burhan jauh lebih baik. Utamanya dalam segi fisik. Burhan dikaruniai kulit yang bersih, wajah yang manis dan rambut keriting yang enak dipandang.

“Burhan mau ke sini Gus?” tanya Gonto yang membuyarkan lamunan Agus.

Agus hanya menganggukkan kepala, isyarat sebuah jawaban.

“Yowes, ayo kita jemput naik transjogja aja.” Ajak Gonto penuh semangat.

Gonto dan Burhan saling kenal, meski mereka tak pernah satu sekolah. Mereka saling kenal karena Agus. Terkadang, Agus mengajak mereka untuk bertemu dan nongkrong bareng. Jadi tak heran jika Gonto bersemangat untuk menjemput Burhan di Terminal Giwangan.

Pada pukul 13.17, Agus dan Gonto sudah berada di dalam bus transjogja. Orang-orang di dalam bus tak jarang menjatuhkan pandangan mata mereka kepada mereka berdua. Seperti biasa, semua itu karena baju yang dikenakan oleh Gonto. Kali ini, Gonto mengenakan baju bermotif thaiday berwarna merah yang luntur dengan hitam dan ada beberapa bercakan berwarna putih. Akan tetapi hal yang begitu mencolok ada pada celana dan sepatunya. Celana komprang berwarna bintik hitam putih dan sepatu berwana silver.

Agus tak mau menghiraukan tatapan tajam orang-orang di dalam bus, ia sudah begitu kebal. Seolah-olah Agus baru saja menyuntikan bius di mukanya hingga ba’al dengan tatapan mata yang tajam dan upaya tahan tawa orang sekitar.

Selama bus transjogja membelah kota, Gonto fokus mengamati pemandangan sekeliling kota. Ketika bus berhenti di perempatan, Gonto dengan sabar  melihat dan menghitung mundur tiap detik lampu merah. Dari air mukanya terlihat sekali bahwa Gonto begitu menikmati perjalanan menuju Terminal Giwangan sore ini. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di dalam Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Tak selang begitu lama, Burhan muncul dari balik lalu lalang bus. Ia melambaikan tangan kemudian saling berpelukan selayaknya teman lama yang sudah lama tak saling jumpa.

“Gus, Han. Kalian ga pengen poop po?” tegur Gonto.

Agus dan Burhan saling bersitatap, lalu mereka saling garuk kepala dan main mata.

Dalam sebuah ruangan enam kali empat meter, Agus, Burhan dan Gonto menempati posisinya masing-masing. Sebuah ruangan yang disekat menjadi lima bagian. Mereka saling berbagi bau dan menyempatkan ngobrol meski terbatas oleh sekat. Meski sesekali salah satu diantara mereka tanpa suara melainkan suara mereka yang ngeden bergantian.

“Gus, kamu tau gak? Aku tadi selepas solat udah minta ke Allah. Tapi aku ragu kalo Allah tau permintaanku.” Cerita Gonto sambil ngeden.

“Lah, kok gitu Gon? Emang doamu gimana?” Agus heran.

“Ya Allah, koyok biasane3.” Kata Gonto sambil menyelesaikan ngedennya yang terakhir.

Agus dan Burhan diam, mereka naik pitam dengan doa yang dipanjatkan oleh Gonto. Agus berusaha untuk mengingat kembali ucapannya tadi pagi. sepertinya ia salah memberikan wejangan kepada Gonto. Wejangan yang kurang jelas akan di tafsirkan tidak jelas juga. Ketika Agus telah selesai dan keluar dari sekat wc, ia melihat Gonto mengangkat salah satu kaki lalu menekuknya. Sedang tangan dan kiri direntangkan selayaknya burung yang akan mengepakkan sayap.

“Gon, kamu ngapain?” tanya Burhan.

“Aku tadi lihat di hampir setiap lampu merah ada tulisan kepakkan sayap kebangsaan. Padahal aku rasa itu masih belum begitu penting saat ini, terutama di masa pandemi ini. Aku rasa masih banyak orang yang perlu uluran tangan kemanusiaan. Dan dengan aku berpose seperti ini di depan cermin, aku sedang membayangkan menjadi inisiator jargon ‘Kepakkan Sayap Kemanusiaan’ soalnya itu kan yang dibutuhkan masyarakat sekarang.”



1Apa gimana

2Kamu

3Seperti biasanya

Popular posts from this blog

Sebuah Seni

"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran. Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun." Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia. Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku. Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari. Namu...

Rayuan Perempuan Gila VS Eksistensi Sebagai Manusia

  Sampul lagu Rayuan Perempuan Gila Akhir-akhir ini lagu Nadin Amizah hampir selalu mengiringi setiap vidio yang ada di Tiktok maupun Instagram. Pertama kali aku mendengar lagu itu, ada warna baru dalam karyanya. Alunan yang enak didengar membuat kepo akan banyak hal tentang lagunya. Setelah aku search lagu tersebut menggunakan kata kunci yang berasal dari lirik yang terngiang: menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Mesin pencarian google menampilkan judul yang unik dan nyentrik, Rayuan Perempuan Gila. Tak perlu pikir lama, aku mendengarkan lagunya secara utuh. Pertama kali aku mendengar, aku masih fokus pada alunan musiknya: tenang, retro, berkarakter, dan khas. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Namun, tulisan ini tidak mengupas secara rinci makna dari lirik lagu Nadin tersebut. Hanya saja aku menilai secara subjektif ketika mendengarkan lebih seksama pada beberapa bagian liriknya yang mengandung pertanyaan dan pernyataan yang pernah aku rasakan. Oleh sebab...

Melihat Pendidikan Di Dalam Pondok Pesantren

  Papan nama SMP Annihayah yang terletak di gerbang Yayasan Annihayah Program kampus mengajar angkatan 3 mengantarkan saya ke sebuah kecamatan kecil di wilayah Karawang, Jawa Barat. Rawamerta, merupakan kecamatan yang terletak sembilan kilometer sebelah utara kota Karawang. Dengan kultur masyarakat islami, dengan berbagai pondok pesantren yang berdiri di dalamnya. Berbekal nekat dan pengalaman mengajar di sebuah komunitas pendidikan di Jogja, saya memberanikan diri untuk mencoba improvisasi dalam mengajar dan mencapai misi pendidikan yang diamanahkan. Dalam pembekalan pra-penugasan, peserta program kampus mengajar angkatan 3 dibekali berbagai ilmu sekaligus diamanahi untuk membawa misi literasi, numerasi dan administrasi. Hal ini seiring dengan data lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang tertinggal akan hal-hal tersebut. Apabila ditanya, mengapa saya mengikuti program ini? Padahal tidak linier dengan konsentrasi studi, serta melihat semester yang saya tempuh suda...