Skip to main content

Agus & Gonto (Wedang Ronde)


Dok.Pribadi


Malioboro, pada sebuah malam yang begitu gemerlap oleh cahaya dan ramai berjubal orang yang berwisata.

         Suasana malam Malioboro berjalan seperti biasanya, riuh ramai muda-mudi bergandengan tangan, muka lelah orang yang berusia dengan nafas yang tersengal, penjual baju seratus ribu dapat tiga berteriak menjajakan dagangan dan kuda yang lelah menunggu penumpang bersama kusirnya. Sedang sesekali lalu lalang bus trans jogja melewati Malioboro mall hingga lampu merah nol kilometer lalu belok ke kiri meninggalkan Jalan Malioboro bersama penumpang yang duduk tak saling sapa yang terlihat dari balik jendela kaca bus yang transparan.

        Malam itu Agus kembali ke Malioboro untuk mengantarkan temannya, Gonto. Gonto sempat bercerita bahwa ia pergi ke Jogja untuk berwisata seperti yang dilihat di instagram. Agus kembali dibuat mengumpat sepanjang jalan karena tingkah Gonto, Gonto duduk di sadel motor jupiter z dengan baju yang bermotif lurik hitam putih dengan celana motif polkadot putih hitam. Agus hanya mengumpat dan memacu motor jupiter z malas. 

        "Hoalah gusti, kok koyo ngene jengene urip iki. Ratau bonceng cewek selama ning Jogja, kok sekaline bonceng uwong, malah boncengi zebra." sindir Agus .

        "Koe nyindir aku Gus?" teriak Gonto tepat di telinga Agus.

        "Ora nyindir, cen model klambimu koyo zebra! ireng putih tekan nduwur sampek ngisor."

        Jupiter z telah melampaui Pasar Bringharjo, Agus mengarahkan motornya belok ke kiri menuju parkiran Pasar Bringharjo untuk memarkirkan motornya. Karena tak mau kejadian sewaktu menjemput Gonto terulang, ia kali ini mengenakan celana levis panjang juga jaket abu-abu. Namun sandal japit warna biru masih saja setia dalam japitan jempol kaki.

        "Gus, aku kok mbok gowo rene neh ki ngopo? Jerene Jogja akeh nggon apik? Aku yo pengen nongkrong-nongkrong koyo cah enom. Aku wes ganteng koyo Aldebaran je."

        Agus diam, matanya menatap muka Gonto penuh pertanyaan. Kumis tipis yang tumbuh diantara hidung dan bibir atas Agus bergerak-gerak tak serantan.

        "Gon, koe mending meneng opo tak kletak mbun-mbunmu?"

        "La aku winginane pas mangkat kae mbok jemput nek kene, saiki mbok jak dolan rene neh ki ngopo?"

        Agus mendekatkan bibirnya ke telinga Gonto, lalu ia berbisik. "Koe rung tau weroh jaran ngrengek kan?"

        Gonto diam, lalu menggelengkan kepala.

        "Rene-rene," Agus mengarahkan kepala gonto ke spion motor. "Saiki wes ngerti kan raine jaran ngrengek?"

        "Wo asu koe ki Gus!" Protes Gonto.

        "Jaran og koe ki Gon!"
        
        Tak jauh dari tempat parkir motor, terdapat orang yang berjualan wedang ronde. Di ujung jalan masuk dari arah malioboro ada seorang kakek tua yang menjajakan wedang ronde. Tepat di sebelahnya, terdapat angkringan pak Jupri. Angkringan yang terlihat ramai pembeli, diantaranya ada tukang becak yang sedang berbincang dengan penjual angkringan juga beberapa orang lainnya. Di sela jemari kanannya terdapat lintingan rokok, sesekali ia mengisap lalu melepaskan asapnya membumbung. 

        Agus mengajak Gonto untuk benar-benar merasakan keramahan kota Jogja dengan nongkrong di angkringan juga minum wedang ronde. Setelah memesan wedang ronde, Agus dan Gonto memasuki tenda sederhana angkringan pak Jupri. Ketika itu, semua orang yang ada di dalam tenda angkringan tersebut diam, semua mata tertuju pada Gonto. Sedang yang lain mencoba menutup mulut untuk menahan tawa. Gonto diam, raut mukanya mengisyaratkan tersindir.

        "Oh ngapunten pak, niki zebra gembira loka. Tapi sampun jinak kok. ampun ajrih nggeh." Celetuk Agus.

        Mendengar Agus nyeletuk demikian, Gonto menendang tulang kering Agus. Semua orang yang ada di angkringan tertawa terbahak.

        Nampaknya malam telah ditelan oleh waktu, sedang enam bungkus nasi kucing telah ditelan oleh Gonto. Entah karena ia lapar atau menabung nasi di dalam perutnya. Perbincangan di meja angkringan tersebut berjalan cukup menarik, bapak tukang becak yang menceritakan bagaimana penghasilannya hari ini dan ditutup dengan obrolan politik yang akhir akhir ini kian ramai diperbincangkan di berbagai jagat media.

        "Laiyo lo, mosok to partai demokrat eker-ekeran di dudohne ning masyarakat. Ning lek masyarakat gegeran malah do dicekeli polisi." Celetuk pak Jupri mengawali pembahasan politik yang menjemukan.

        "La sakjane yo ra salah to pak, la mosok partai dikuasai ro keluarga SBY?" Jawab tukang becak.

        "Yo aku ki ra mikir lan ra ngurus sopo seng nguasai partai kui, tapi ki mosok nek gelut di dudohke nek masyarakat? kan ra wangun blas!" Jawab pak Jupri.

        "Yo ra ngono pak Jupri, pak Mul kan niate meh nylametke partai to kui ceritane.." sela bapak tukang becak.

        "Halah-halah malah melu geger perkoro partai, opo ra kelingan to pak winginane wayah pilpres? masyarakat do geger milih nomor siji opo nomor loro? nyatane tuku siji oleh loro. Padahal masyarakat meh bubar. Wes saiki rasah do padu, mbok di delok ro tepuk tangan wae nek wong nduwur-nduwur gelut. Kan jarang jarang koyo ngono. Bene gantian to?" Ujar Gonto dengan mengunyah sate usus.

Popular posts from this blog

Sebuah Seni

"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran. Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun." Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia. Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku. Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari. Namu...

Rayuan Perempuan Gila VS Eksistensi Sebagai Manusia

  Sampul lagu Rayuan Perempuan Gila Akhir-akhir ini lagu Nadin Amizah hampir selalu mengiringi setiap vidio yang ada di Tiktok maupun Instagram. Pertama kali aku mendengar lagu itu, ada warna baru dalam karyanya. Alunan yang enak didengar membuat kepo akan banyak hal tentang lagunya. Setelah aku search lagu tersebut menggunakan kata kunci yang berasal dari lirik yang terngiang: menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Mesin pencarian google menampilkan judul yang unik dan nyentrik, Rayuan Perempuan Gila. Tak perlu pikir lama, aku mendengarkan lagunya secara utuh. Pertama kali aku mendengar, aku masih fokus pada alunan musiknya: tenang, retro, berkarakter, dan khas. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Namun, tulisan ini tidak mengupas secara rinci makna dari lirik lagu Nadin tersebut. Hanya saja aku menilai secara subjektif ketika mendengarkan lebih seksama pada beberapa bagian liriknya yang mengandung pertanyaan dan pernyataan yang pernah aku rasakan. Oleh sebab...

Melihat Pendidikan Di Dalam Pondok Pesantren

  Papan nama SMP Annihayah yang terletak di gerbang Yayasan Annihayah Program kampus mengajar angkatan 3 mengantarkan saya ke sebuah kecamatan kecil di wilayah Karawang, Jawa Barat. Rawamerta, merupakan kecamatan yang terletak sembilan kilometer sebelah utara kota Karawang. Dengan kultur masyarakat islami, dengan berbagai pondok pesantren yang berdiri di dalamnya. Berbekal nekat dan pengalaman mengajar di sebuah komunitas pendidikan di Jogja, saya memberanikan diri untuk mencoba improvisasi dalam mengajar dan mencapai misi pendidikan yang diamanahkan. Dalam pembekalan pra-penugasan, peserta program kampus mengajar angkatan 3 dibekali berbagai ilmu sekaligus diamanahi untuk membawa misi literasi, numerasi dan administrasi. Hal ini seiring dengan data lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang tertinggal akan hal-hal tersebut. Apabila ditanya, mengapa saya mengikuti program ini? Padahal tidak linier dengan konsentrasi studi, serta melihat semester yang saya tempuh suda...