Skip to main content

Memar

 

Dok. Pribadi

“Mak, perutku begitu lapar...” keluh seorang bocah lelaki yang memegangi perutnya.

“Sabar nak, bapak belum dapat rezeki untuk kita makan.” Jawab seorang wanita yang mencoba menenangkan bocah lelaki yang merintih kelaparan.

“Rasa laparku luar biasa mak, cacing didalam perutku menggerogot habis semua ususku.”

Dengan cekatan, wanita tadi mengambil sebuah selendang dari almari reyot yang ada di sudut kamar. “Ikatkan selandang ini kuat-kuat di perutmu nak, biar perutmu tidak lapar lagi.”

Dengan mata berkaca-kaca, bocah lelaki tadi mengikat dengan kuat selendang yang diberikan oleh emaknya, “Mak, perutku butuh sesuatu untuk melewati kerongkongan dan mengisi perut meski sedikit saja.”

Wanita tadi nampak bingung kemudian bergegas menuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat melewati kerongkongan agar anaknya tak lagi merasa lapar. “Nak, emak hanya punya seteko air putih, minum saja agar perutmu sedikit terisi.”

Dua gelas penuh telah masuk kedalam perut bocah lelaki tadi, meski rasa laparnya masih saja menggelora.

“Mengapa tidak kamu habiskan saja satu teko air ini nak? Agar perutmu sedikit tergenang oleh air dan tak begitu merasa lapar.”

“Jika aku habiskan seteko air ini, emak sama bapak makan apa? Biarlah aku merasakan sedikit saja dan dibagi rata, mak.”

Mereka berdua menangis berpelukan dan bersimpuh di atas tanah basah yang telah diguyur hujan semalam, di dalam sebuah kamar yang berukuran tak lebih dari dua meter persegi.

Keluh kesah bocah lelaki tadi terdengar begitu nyaring di telinga seorang pria yang duduk di atas kursi bambu. Maklum saja terdengar nyaring, karena hanya bilik bambu yang menjadi sekat pemisah antar ruangan di rumahnya.

Hancur lebur hati seorang pria tadi mendengar anak istrinya mengeluhkan rasa lapar. Ia merasa gagal menjadi seorang suami jika tak dapat memberikan dua orang terkasihnya sesuap nasi, walau hanya berlauk garam. Padahal, ia dan istrinya telah berpuasa selama dua hari karena tiada uang yang ia dapatkan untuk dibelikan beras. Tanpa sahur mereka berdua memulai puasa, dan cukup tegukan air putih yang membatalkan puasa mereka sedari dua hari lalu.

“Mak, bapak pergi narik dulu ya. Doakan hari ini dapat rezeki untuk kita makan.” Izin seorang pria kepada istrinya dengan mengenakan pakaian dinasnya.

Pakaian dinas yang ia miliki tak seperti pakaian dinas milik para pejabat tinggi dengan semua pangkat yang menempel di pundak maupun dadanya. Pakaian dinasnya begitu sederhana, kaos putih berlengan panjang dengan tulisan “Jujur, adil dan memajukan daerah” dengan gambar orang yang mengemis suara rakyat kecil saat merasa butuh, beserta nomor urutnya tergambar jelas di dada. Topi bundar yang melingkar di kepala merupakan standar wajib pakaian dinasnya sebelum berangkat kerja.

Terik matahari pagi menuju siang menemaninya dalam kayuhan kendaraan roda tiga menuju pasar yang tak jauh dari rumahnya. Pria tadi berangkat penuh harap agar ada orang yang membutuhkan jasanya untuk mengantar ketempat tujuan.

Beberapa hari terakhir suasana di luar rumah tak seperti biasanya. Pasar sepi pembeli, lalu lintas lengang dan banyak toko-toko besar lebih memilih menutup tokonya di siang hari. Ia bingung dengan tingkah laku orang-orang yang tak mau lagi keluar rumah pada siang hari.

Sesampainya di depan mulut pintu pasar, telah berjejer rapi di pinggir jalan rekan seprofesi pria tadi yang sedang menunggu siapapun yang membutuhkan jasa mereka. beberapa orang rekannya memilih tidur diatas kendaraan roda tiganya, dan ada salah seorang dari mereka menyapa pria tadi.

“Woi Darman, jam segini baru datang?” sapa seseorang yang baru sadar dari tidur karena kedatangan pria yang bernama Darman.

“Iya, aku baru saja bangun.”

“Pagi-pagi masih tidur, rezekimu dipatok sama ayam tuh.”

“Pagi ini kamu sudah berapa kali narik?”

Rekan yang ia ajak berbincang itu membuka mata dan duduk diatas kursi penumpang. “Pagi ini sepi sekali, tidak banyak orang beraktivitas di pasar. Para penjual banyak yang tak datang hari ini.”

Pagi menjelang siang telah berlalu, pria bernama Darman masih saja setia menunggu siapapun yang membutuhkan jasanya. Namun tak satu orang pun melirik dan berminat untuk diantarnya menuju tujuan yang di inginkan.

Pada siang itu, beberapa rekannya memilih pulang dengan tangan hampa. Mereka telah datang dan menunggu sejak kumandang adzan subuh menggema hingga terik panas matahari berada diatas kepala, namun tak ada seorang pun yang mau menggunakan jasa mereka.

Sedang pria bernama Darman tadi masih saja sabar menunggu di bawah terik sinar matahari siang, ia hanya berlindung di bawah naungan kain yang menutupi tempat duduk penumpang. waktu terus berlalu, sesekali truck bermuatan berat melintasi jalan yang ada di depannya, ia hanya menghempaskan debu jalanan ke muka pria bernama Darman tadi.

“Darman? Kenapa kamu masih saja mau berjemur di situ? Sini kita ngopi sambil lihat berita.” Ajak seorang rekan kerjanya.

Pria yang bernama Darman itu membuka topi yang menutupi wajahnya untuk merespon orang yang mengajaknya berbicara. Wajahnya senyum asam saat menanggapi ajakan rekannya untuk menikmati kopi yang harganya tak lebih dari lima ribu rupiah. Bukan karena apa, tapi karena ia memang tak memiliki uang sepeserpun.

“Sini, cepat! Daripada kamu diam disitu.”

Langkah kaki pria bernama Darman tadi lemas dan sedikit sempoyongan saat berjalan menuju rekannya. Ia menghampiri rekannya karena tak enak hati jika tak berkenan untuk sekedar duduk dan berbincang meski tak akan membeli secangkir kopi.

“Kamu mau pesan apa Man?”

“Tidak, aku sedang puasa.”

Rekannya mengetahui kondisi ekonomi pria bernama Darman tidak begitu stabil, maka ia tak banyak menanyakan mengapa ia puasa di hari rabu.

“Man, kamu tau tidak? Mengapa akhir-akhir ini pasar sepi, jalanan lengang?”

“Tidak, aku tidak tau kenapa.”

“Baru ditayangkan di televisi, katanya ada wabah virus namanya apa gitu, susah disebutnya. Tapi kalo gak salah namanya co.. ro.. na. Oh ya, corona.”

“Corona yang bisa terbang itu? Gara-gara dia bisa membuat orang malas untuk keluar rumah? Luar biasa sekali.” Jawab pria bernama Darman, dengan polos.

“Ehh itu kan coro. Bukan yang itu, ini virus, gak bisa di lihat tapi bisa buat orang mati.”

Pria bernama Darman itu menggerutu, “Ada atau tidaknya virus, anak dan istriku akan mati perlahan jika aku tidak dapat uang, yang dibutuhkan mereka saat ini adalah dua genggam beras yang dapat ku bawa pulang untuk dimakan, walau dengan lauk sesendok garam pun tak apa.”

Siang menuju sore telah berlalu, kini matahari telah berada diujung barat, semburat jingga telah menghampar di atas langit. Rekan-rekannya telah pulang satu persatu dengan tangan hampa. Sedang di depan warung kopi di bibir jalan masuk pasar, kini tersisa hanya dirinya saja.

“Mas Darman, warung kopinya tutup dulu ya.” Sapa seorang penjaga warung.

“Iya, silakan.”

“Mas Darman tidak pulang?”

“Iya setelah ini.”

Tak lama berselang, kumandang adzan telah menggema dipucuk menara surau. Pria bernama Darman tadi berjalan tergopoh menuju surau untuk menunaikan ibadah. Ia mengayuh kendaraan roda tiganya dengan muka muram dan lemas. Tiga hari ini perutnya tak mendapat asupan makanan apapun. Hanya air yang membanjiri perutnya.

Pria bernama Darman tadi melangkah lemas menuju tempat bersuci, ia berkumur dan sesekali menelan air yang dikumurnya, tak jarang ia berbuka puasa dengan air kran seperti ini. Karena hanya itu yang dapat ia lakukan.

Sesaat setelah ibadah, ia duduk terdiam diatas tempat duduk penumpang. ia tak mau pulang sebelum membawa beras walau hanya dua genggam. Pikirannya mulai kacau, hatinya mulai tak karuan. Ia mengingat kembali rengekan anaknya karena rasa lapar, tak sampai hati bila mendengar lagi anaknya merengek karena rasa lapar sampai perutnya dililit rapat oleh selendang.

Di ujung sebuah pasar terdapat satu toko yang masih buka saat matahari tak bersinar. Kali ini pria bernama Darman itu melihat bahwa toko itu sangat ramai oleh pembeli. Ia mencoba mangkal disana, siapa tau ada orang yang membutuhkan jasanya.

Pukul delapan malam, toko itu masih saja ramai. Namun tak satu orangpun yang menginginkan untuk menggunakan jasanya. Pikirannya mulai kalut karena nafsu lapar mulai menggerogoti seisi kepala. Kemudian, ia memutuskan berjalan menuju toko tersebut dengan pandangan mata was-was.

Ia menuju ke sebuah karung beras yang terbuka dan diatasnya terdapat tulisan “Rp.8.000,-“ tangannya meraih kedalam karung dan menggenggam beberapa kali untuk ia masukkan kedalam saku celananya. Dua genggam di saku celana kanan dan tiga genggam di saku celana kirinya. Matanya masih mengawas dengan sangat hati-hati, agar aksinya tak diketahui oleh siapapun.

“Woy gembel! Kau mengambil berapa genggam beras untuk kau masukkan kedalam kantongmu!” teriak seorang pria dari arah belakang.

Pria bernama Darman itu kepalang kaget karena aksinya diketahui oleh seseorang. Ia reflek untuk berlari sekuat tenaga menuju becak yang diparkir di pinggir jalan. Sedang orang yang memergoki aksinya tadi kini berteriak “Maling! Maling!” dengan sangat kencang. Orang-orang kini mengejarnya penuh amarah. Sedang nafas Darman tersengal karena berlari tanpa bekal tenaga.

“Bruk!” ia jatuh karena lemas tak berdaya. Orang-orang yang tersulut emosi tadi, kini memberinya pukulan mentah ke sekujur tubuhnya. Pria bernama Darman tadi sudah tak begitu sadar bahwa ia dipukul oleh masa, karena dirinya sudah tak lagi berdaya.

Setelah beberapa saat, kini matanya mulai terbuka. Sakit ia rasakan di sekujur tubuh dan muka. Tangan dan kakinya sulit untuk di gerakan. Saat mata benar-benar telah terbuka. Ia baru menyadari bahwa tangannya telah terikat kebelakang melingkari tiang listrik, sedang kakinya telah terikat kuat oleh tali. Bajunya yang sebelumnya berwarna putih, kini telah berubah menjadi coklat dengan beberapa titik terdapat bercak darah.

“Pak polisi! Gembel keparat itu sudah sadar! Bawa dia kedalam penjara dan adili dia seberat-beratnya!” teriak seorang lelaki penuh amarah.

“Jangan hakimi aku, aku hanya butuh dua genggam beras untuk kumakan bersama anak istriku. Aku telah tiga hari ini tak makan sesuap nasi.” Ucap pria bernama Darman tak berdaya.

“Bedebah, masih saja mengelak!”

Seorang polisi lekas mengamankan pria bernama Darman itu dari amukan masa, ia membawanya kedalam sebuah mobil dan segera menuju ke kantor polisi.

“Pak polisi, bolehkan aku meminta sesuatu?” pinta pria bernama Darman.

“Apa?”

“Aku akan bertanggungjawab penuh atas perbuatanku ini, tapi bolehkah aku pulang untuk memberitahu anak dan istriku kalau aku tak bisa kembali pulang dan membawakan mereka beras untuk hari ketiga sampai waktu yang aku tak tau.”

Seorang polisi menatap ke arah wajah pria bernama Darman itu penuh dengan iba. Tak lama berselang, laju mobil polisi mulai berhenti.

“Dimana rumahmu?”

Dengan cepat mobil berputar arah dan melaju menuju rumah pria bernama Darman. Sesampainya di rumahnya, ia berjalan sempoyongan. Ia dibantu oleh dua orang polisi menuju rumah berdinding anyaman bambu. Anak serta istrinya terkejut melihat suaminya berwajah lebam dan berbaju coklat dihiasi bercak darah di beberapa sudut kaosnya.

“Bapak!” seru anak dan istri yang banjir air mata di kedua sudut mata.

“Maafkan aku nak, mak. Mulai hari ini, aku tak lagi membawakan uang ataupun beras untuk kalian. Kini aku malah dibawa polisi karena perbuatan hina. Aku berniat memaksa membawakanmu lima genggam beras dari hasil curian. Tapi tuhan menyayangi kalian agar tak memakan barang haram.”

Istri dan anaknya memeluk erat pria itu dengan deru air mata. Sesekali istrinya mencium kening sang suami tanpa jijik yang terdapat bercak darah di beberapa sudut keningnya. Pak polisi melihat adegan di depan matanya penuh iba.

“Ibu tidak usah khawatir, setelah ini tim saya akan membawakan sembako kemari.”

“Aku tak mau mendapatkan sembako meski cuma-Cuma, bila suamiku harus berada di penjara.”

“Maaf bu, suami ibu harus tetap kami proses hukum. Ibu yang tenang dan sabar saja, suami ibu juga telah mengakui perbuatannya.”

“Apakah karena lima genggam beras dengan alasan untuk bertahan hidup, suamiku akan mendekam dalam penjara?” Seorang polisi yang ada dihadapan wanita tadi tak banyak menanggapi pertanyaan. Ia memalingkan wajah dan memerintahkan untuk segera membawa pencuri lima genggam beras tadi ke kantor polisi.

“Selamat tinggal nak, mak. Sampai jumpa lagi.”

 

 

***

 

Bocah lelaki kebanggaan Darman, kini lebih sering duduk diam di kursi bambu depan rumah. Meratapi nasibnya dan emaknya. Tiada lagi tulang punggung yang bisa menopang hidupnya saat ini. Tak jarang pikirannya terbang melayang diatap semesta yang limbung tersapu oleh angin. Umurnya masih sebesar biji jagung, terlalu muda untuk memikirkan hal yang tak semestinya ia pikirkan, seperti hari ini ia dan emaknya harus makan apa.

“Kamu mikir apa? Kok diam dan duduk menyendiri disini?”

“Tak apa mak.”

“Lalu mengapa kamu diam dan melamun?”

Bocah lelaki menoleh dan melihat jauh ke dalam bola mata wanita yang ia kasihi, seolah ia memasuki hati emaknya melalui bola mata. “Mak, kabarnya bapak giamana ya?”

Air muka istri Darman berubah signifikan, matanya berkaca-kaca namun terus menguatkan agar air mata tak jatuh berlinang. “Bapak pasti baik baik saja. Kamu yang tenang ya.”

Tatapan kosong yang dibuntuti pertanyaan dari seorang bocah lelaki telah sukses menembus ke dalam kornea istri Darman. Saraf matanya mengirimkan sinyal rasa pilu ke otak dan disalurkan dengan cepat ke hati hingga diterjemahkan sebagai rasa sakit. Hatinya menjerit dan merintih saat melihat putra semata wayangnya terus diam dan melamun semenjak bapaknya ditangkap.

Pertanyaan bocah lelaki tak berhenti sampai di situ saja, ia bertanya jauh lebih dalam kepada emaknya yang jelas sukar untuk dijawab. “Mak, bapak di sana makan apa mak? Apa ia bisa makan enak?”

Hatinya tertusuk mendengar pertanyaan sederhana dari lisan seorang bocah, namun tiada daya bibir untuk mengucap sesuatu, “bapak pasti bisa makan di sana, tapi emak tidak tau apakah makanannya enak dan layak.” Air matanya kini jatuh berlinang bagai air terjun yang baru saja dibasahi hujan.

“Mak, mengapa emak menangis?”

“Tak apa nak, kamu jadi anak yang pinter ya. Semoga masa depanmu lebih cerah seperti matahari ketimbang bapak dan emakmu ini.”

Bocah lelaki itu menoleh kearah wanita yang ia sayang dengan mata berbinar, ia gerah dengan perkataan yang terlalu mengagungkan pendidikan, “mak, aku senang bisa sekolah saat ini. Tapi apakah hanya sekolah yang dapat mengantarku ke tempat yang banyak uang dan bisa dikatakan orang sukses? Bahkan banyak orang tua dari teman temanku berkata sama persis dengan emak, mereka juga menyuruh agar setiap anaknya sekolah yang rajin agar pinter. Mereka juga bilang nantinya bila sudah pinter akan menjadi manusia yang lebih beruntung dengan memiliki harta yang lebih baanyak dari orang tuanya saat ini. Lalu apa arti tuhan yang selama ini kita sembah lima kali dalam sehari? Bukankah dia yang maha memiliki dan maha raja? Ia juga maha bijaksana kan mak? Bukankah ia akan tau dan adil dalam memberikan rezekinya kepada setiap manusia?”

Rentetan pertanyaan bocah lelaki itu menghujam deras kepada seorang wanita yang berijazah SMA. Pertanyaan itu memang sukar untuk dijelaskan dengan penjelasan yang biasa disampaikan kepada orang yang sama dewasa. Ia bingung bagaiamana menyederhanakan jawaban agar anaknya paham dengan apa yang dimaksudnya. Tapi hati ibu dan anak memanglah terdapat ikatan. Ia menjawab dengan sederhana.

“Nak, kamu memang harus pintar dalam bersekolah. Tapi kamu tidak harus pintar dalam semua hal. Setidaknya kamu pintar dalam bersikap baik kepada orang lain dan bisa menghargai diri kamu sendiri dalam belajar. Lupakan dulu tentang sukses dan kaya ya? Yang penting kamu sekarang bisa belajar bersikap baik dan sopan kepada orang lain dan bisa menghargai diri kamu sendiri dan orang lain. Masalah harta, benar apa kata kamu nak, ada tuhan yang maha segalanya yang akan mengatur segala rezeki untuk umatnya. Tapi jangan lupa untuk terus sholat dan berdoa ya?”

Bocah lelaki mendengarkan semua perkataan emaknya dengan seksama, bahasa yang disampaikan oleh emaknya dapat diterima dengan mudahnya. Hati bocah lelaki kini tak lagi sesak, pikirannya tak lagi kacau. Rasa sayang kepada emak dan bapaknya kian membara, meski bapaknya dibui karena lima genggam beras yang dicurinya. Akan tetapi bocah lelaki itu bangga kepada bapaknya. Karena bapaknya dengan kesatria telah mengaku salah dan mengatakan beruntung kalau dia tak sampai memberikan makanan haram kepada anak istrinya walau hanya lima genggam beras. Ia juga dengan kesatria berani mempertanggungjawabkan perbuatannya tanpa ada keringanan yang diberikan. Ia berlaku selayaknya orang “pintar” yang bisa sekolah tinggi. Ia berani bertanggungjawab atas perbuatannya dan menghargai keputusan hukum. Bahkan tak banyak orang “pintar” bisa dan berani menghargai hukum. Walau secara tertulis diatas kertas, bapaknya hanya lulusan SMP.

Memang benar apa yang dikatakan oleh orang. Bahwa sekolah tak hanya tentang nilai di atas kertas, namun nilai yang sebenanya berada di dalam diri. Karena perilaku yang luhur merupakan cerimanan dari diri yang berbudi luhur.

Popular posts from this blog

Sebuah Seni

"Sudah berapa lama kamu menjomblo?" Tanyanya penasaran. Ku jawab dengan sedikit berpikir, "Mungkin hampir delapan tahun." Kala itu, aku merasa ia menertawakanku diam-diam. Bukan hal baru bagiku—ejekan dan tawa soal itu sudah sering kudengar. "Masa sih, orang kayak kamu jomblo selama itu." Begitulah celetukan yang biasa mereka lontarkan. Tapi tidak dia. Masa jomblo itu akhirnya berakhir, semuanya bermula dari obrolan ringan tentang hidup. Kami berbicara ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya membahas bagaimana cara kami bertahan hingga saat ini, hal-hal yang telah kami lewati. Obrolan itu mendadak terasa serius, dan aku mulai memperhatikan cara dia bercerita, lamat-lamat. "Asik, ternyata kami punya hal yang sama," pikirku. Selama ini, aku belajar banyak hal darinya. Semua terasa santai, tanpa beban. Tapi ada satu hal yang hingga kini belum juga kupahami: soal PEKA. Yap, itu adalah pelajaran tersulit yang pernah ku coba pelajari. Namu...

Rayuan Perempuan Gila VS Eksistensi Sebagai Manusia

  Sampul lagu Rayuan Perempuan Gila Akhir-akhir ini lagu Nadin Amizah hampir selalu mengiringi setiap vidio yang ada di Tiktok maupun Instagram. Pertama kali aku mendengar lagu itu, ada warna baru dalam karyanya. Alunan yang enak didengar membuat kepo akan banyak hal tentang lagunya. Setelah aku search lagu tersebut menggunakan kata kunci yang berasal dari lirik yang terngiang: menurutmu, apa benar saat ini kau masih mencintaiku? Mesin pencarian google menampilkan judul yang unik dan nyentrik, Rayuan Perempuan Gila. Tak perlu pikir lama, aku mendengarkan lagunya secara utuh. Pertama kali aku mendengar, aku masih fokus pada alunan musiknya: tenang, retro, berkarakter, dan khas. Sebuah karya yang perlu diapresiasi. Namun, tulisan ini tidak mengupas secara rinci makna dari lirik lagu Nadin tersebut. Hanya saja aku menilai secara subjektif ketika mendengarkan lebih seksama pada beberapa bagian liriknya yang mengandung pertanyaan dan pernyataan yang pernah aku rasakan. Oleh sebab...

Melihat Pendidikan Di Dalam Pondok Pesantren

  Papan nama SMP Annihayah yang terletak di gerbang Yayasan Annihayah Program kampus mengajar angkatan 3 mengantarkan saya ke sebuah kecamatan kecil di wilayah Karawang, Jawa Barat. Rawamerta, merupakan kecamatan yang terletak sembilan kilometer sebelah utara kota Karawang. Dengan kultur masyarakat islami, dengan berbagai pondok pesantren yang berdiri di dalamnya. Berbekal nekat dan pengalaman mengajar di sebuah komunitas pendidikan di Jogja, saya memberanikan diri untuk mencoba improvisasi dalam mengajar dan mencapai misi pendidikan yang diamanahkan. Dalam pembekalan pra-penugasan, peserta program kampus mengajar angkatan 3 dibekali berbagai ilmu sekaligus diamanahi untuk membawa misi literasi, numerasi dan administrasi. Hal ini seiring dengan data lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang tertinggal akan hal-hal tersebut. Apabila ditanya, mengapa saya mengikuti program ini? Padahal tidak linier dengan konsentrasi studi, serta melihat semester yang saya tempuh suda...