![]() |
| Foto: detikfood.com |
Saat pagi menjelang, saat malam akan berpamitan. Seorang wanita paruh baya telah bangun di pagi buta dan bergegas menuju dapur untuk segera menyalakan tungku. Berselang tak begitu lama kepulan asap telah membumbung tinggi diantara putihnya kabut. Sayup-sayup suara adzan terdengar dari menara masjid desa.
Saat itu, seteko penuh air telah diangkat dari tungku. Suara khas air panas yang terjun dari teko ke dalam gelas telah menyelinap secara sopan ke dalam telinga. Semerbak aroma kopi dan teh wangi telah menyebar keseluruh sudut ruangan rumah. Senyum wanita paruh baya mengembang saat setangkup cinta bertabur mesra dalam adukan secangkir kopi dan segelas teh panas.
Dengan langkah pelan penuh kasih sayang, ia menuju kamar orang yang ia cintai. "Pak, bangun. Sudah subuh. Segera sholat. Nanti keduluan sama sinar matahari." Lalu ia berjalan menghampiri kamar lain. "Le, bangun. Sholat subuh dulu." tangannya mengusap dahi dan rambut anaknya penuh rasa sayang.
Pukul 05.00 pagi. Matahari masih begitu malu untuk menampakkan sinarnya. Sedang temaram masih saja mesra memeluk punggung desa. Pada pagi itu, di meja makan sudah tersaji secangkir kopi dan segelas teh panas yang masih dihiasi kepulan asap yang khas.
Rasa kantuk sesaat setelah menunaikan sholat subuh masih tersisa disudut mata anak lelaki yang masih duduk di bangku SMA. Sedang bapaknya telah duduk di meja makan untuk menikmati hangatnya kopi yang dibuat oleh wanita paruh baya. Kehangatan kopi itu bukan saja berasal dari airnya, akan tetapi seduhan dengan rasa cinta juga menciptakan rasa hangat yang berbeda padanya.
Sebelum bergegas membersihkan diri, anak lelaki tadi mengikuti bapaknya untuk duduk satu meja dan menikmati hangat rasa cinta dan aroma wangi teh hangat yang juga dibuat oleh wanita paruh baya.
Sinar matahari telah menampakkan dirinya, kabut yang menyelimuti desa perlahan terbang tertiup oleh semilir angin. Lalu lintas jalan desa didepan rumah mereka sudah mulai dipenuhi oleh siswa dan pria yang hilir mudik untuk menuju sekolah maupun tempat bekerja. Pagi itu, kota akan memulai aktivitasnya.
"Le, sebelum berangkat sekolah, makan dulu ya. Pagi ini, ibu masak pecel sama tempe goreng. kalau kamu pengen kerupuk, ada diatas meja." Tanpa banyak berkata, anak lelaki itu duduk di salah satu kursi pada meja makan bersama bapak dan wanita paruh baya untuk menyantap hidangan yang telah dibuatkan dengan rasa cinta.
Waktu berlalu begitu capat, hingga wanita paruh baya dan sang suami terlihat lebih tua dari beberapa tahun sebelumnya. Bagaimana dengan anaknya? Ia tumbuh menuju dewasa. Belum lama ini, ia telah menyelesaikan sekolahnya di bangku SMA. Untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, ia memutuskan untuk meninggalkan wanita paruh baya dan bapaknya ke kota pelajar yang berada di tengah Jawa. Dengan harap ia membawa pulang ilmu untuk dirinya atau orang sekitarnya.
Merantau. Hidup terpisah dengan orang tua memang bukan hal yang mudah untuk anak lelaki tadi. Tapi keputusannya harus di laluinya dengan lapang dada. Meski demikian, selama ini perantauan belum memberikan suatu hal yang menyulitkan untuknya. Semua masih bisa ia lakukan sendiri. Akan tetapi, ada satu hal yang selalu membuatnya rindu dengan wanita paruh baya. Dibangunkan di pagi buta, segelas teh panas dan sepiring nasi sarapan pagi yang memiliki cita rasa enak, tentunya rasa "cinta" itu yang membuatnya selalu merasa rindu, karena rasa itu tak pernah ada di kota rantaunya.
"Selama ini aku bisa saja pergi ke tempat yang begitu jauh dari rumah. Akan tetapi, ada satu masa dimana aku selalu merasa rindu dengan masakan ibu dan sarapan pagi yang dibuatnya dengan penuh rasa cinta."
