![]() |
| Foto: LINE Today |
Nongkrong, merupakan sebuah kegiatan yang saya yakin pernah dilakukan oleh semua anak muda khususnya anak muda Indonesia. Baik nongkrong sama temen, keluarga, pasangan atau siapapun. Hal itu tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup masyarakat indonesia yang ramah tamah dan suka menghabiskan waktu untuk berbincang. Hal ini pun pernah dikemukakan Pandji Pragiwaksono dalam stand up comedy nya.
Ternyata, ada hal menarik soal nongkrong. Nongkrong merupakan hal yang "kebanyakan" dilakukan oleh orang ras melayu, di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Bahkan, nongkrong ini sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI). Dalam KBBI, tongkrong berarti berjongkok atau duduk-duduk saja karena tidak bekerja. Tapi dalam pemahaman kita, istilah tongkrong atau yang biasa kita kenal nongkrong adalah istilah yang digunakan untuk kegiatan berkumpul bersama temen-temen di suatu tempat.
Oke, coba kalian inget-inget lagi kapan dan dimana terakhir kali kita nongkrong. Hmm, sebagian besar dari kalian pasti mengingat kalau terakhir kali nongkrong itu di cafe atau tempat semacamnya. Dan dilakukan masih belum lama ini. Terus, kalian nongkrong di cafe pesen minum seperti kopi, teh panas, milk shake, atau jus. Di sebelah minuman tadi pasti ditemani sama makanan ringan seperti kentang goreng atau semacamnya. Kita bisa hafal di luar kepala daftar menu tadi. Bahkan hampir bisa kita pastikan kalau berkunjung di cafe atau tempat tongkrongan, pasti terdapat salah satu dari daftar menu itu tadi. Hal ini membuktikan bahwa nongkrong itu kegiatan yang menjadi budaya di masyarakat, hingga menciptakan aturan tidak bakunya sendiri.
Lalu, apa masalahnya dengan tongkrongan atau kegiatan nongkrong bareng temen-temen? Belum tau dimana letak duduk masalahnya? Oke. Kalau kita pikir, memangnya saat kalian nongkrong sama temen-temen bahas tentang apa sih? bisa jadi ngobrolin hal yang tidak jelas kemana arahnya kan?
Pasti diantara kalian ada yang ngebatin, "Kan nongkrong itu momen buat mengakrabkan. Jadi bebas aja dong mau ngomongin tentang apa?" betul sih, kalo nongkrong itu momen kalian untuk mengakrabkan atau berbincang untuk mengekspresikan diri. Aku pun gak akan bisa bersosial tanpa nongkrong. Aku sendiri ga bisa memungkiri kalau nongkrong sudah menjadi gaya hidup anak muda zaman now.
Aku secara pribadi sebenarnya menganggap biasa saja kepada siapapun untuk nongkrong dan membicarakan apapun di dalam obrolan dalam tongkrongan itu. Karena berbicara dan berkumpul merupakan hak setiap masing-masing individu. Nah, tapi pernahkah kalian mikir apa yang dapat dibawa pulang setelah nongkrong dan ngobrol ngalor ngidul tadi?
Apakah obrolan kalian hanya sebatas melucuti semua aib teman-teman sendiri? atau membicarakan paras seseorang menurut prespektifmu sendiri? atau membicarakan hal-hal sensual yang memenuhi isi kepala? atau mungkin ada hal-hal lain yang ada dalam obrolan kalian tapi tak pernah terlintas dipikiranku. Mengapa kita tidak sedikit merubah mode dan kiblat pembicaraan diantara ruang tongkrongan kalian menjadi lebih produktif dan membangun?
Ada sebagian dari kita yang merasa ogah untuk berbicara dan berdialog tentang generasi penerus bangsa dan kenegaraan. Hal itu dianggap terlalu naif bila dinaikkan kedalam meja tongkrongan. Tapi mau tidak mau, anak muda bangsa ini merupakan aset terpenting bangsa untuk generasi selanjutnya. Hingga kita sedikit dipaksa untuk mengerti dan melek akan permasalahan bangsa dan negara. Boleh saja kita ngobrol ngalor ngidul. Tapi mengapa tidak sesekali membawa arah pembicaraan itu kepada sebuah hal yang lebih jelas dan cerah, seperti membahas kudapan yang dipesan dan akan dihidangkan di atas meja tongkrongan itu? sehingga nongkrong menjadi budaya dan fasilitas umum untuk bertukar pikiran dan saling mengisi ilmu yang rumpang.
Berbahagialah bagi kalian yang sudah menerapkan obrolan yang bermanfaat dan terarah. Karena bisa jadi kalian merupakan aset bangsa yang langka. Dalam pengamatanku secara pribadi, belum banyak anak muda yang bertemu dan nongkrong untuk sengaja membahas hal-hal yang penting dan bermutu, kecuali rapat. Apabila terlalu berat untuk menggeser mode, setidaknya ada sedikit hal yang dapat dibawa pulang setelah bertemu dan tertawa terbahak-bahak bersama kawan lama. Bukan pulang malah membawa aib orang dan menertawakannya.
Jika kita melihat ke dalam dunia sosial media, saat ini kolom komentar hampir sesak oleh ujaran kebencian dan makian. Mirisnya, banyak dari ujaran itu tertulis dari akun anak muda. Tak jarang di biografinya tertulis hal-hal inspiratif, tapi tidak demikian dengan perbuatan jempolnya. memang, biografi tak akan pernah dapat mencerminkan secara akurat bagaimana sifat asli sang pemilik akun. Akan tetapi, terlalu pilu bila fakta itu menjadi hal biasa diantara kita. Lalu, apakah kegiatan nongkrong memiliki pengaruh besar terhadap fenomena demikian? bisa jadi iya. Sedikit banyak obrolan dan lingkungan kita berdiskusi akan membentuk sebuah struktur berpikir dalam kepala kita. Akan sangat merugi bila kita telah menghabiskan waktu dan uang untuk bersenda gurau tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kita.
Lantas bagaimana cara yang menurut anda efektif untuk menghadapi tren "nongkrong" agar menjadi fasilitas untuk membuat bangsa yang bestari? tulis saja di kolom komentar ya kawan :)
"Hal yang menyenangkan bila budaya nongkrong tetap lestari. Tapi alangkah lebih senang bila budaya nongkrong menjadi fasilitas untuk bangsa yang bestari."
