Hari ini, matahari pukul setengah lima sore menyorot lemah nan rendah di balik gedung dan perumahan warga. Burung-burung terbang terburu untuk segera pulang menuju sangkar, mungkin mereka pulang untuk memberikan makanan kepada anaknya. Dengan hiasan jingga dilangit kota dan lampu jalan yang bersinar pudar mengisyaratkan bahwa hari akan segera gelap.
Agus, seorang pemuda biasa saja yang berasal dari kampung. Dengan muka minimalis, rambut hitam sedikit agak klimis memutuskan untuk berkeliling kota saat matahari menampakkan sedikit cahayanya. Kemana pun ia pergi selalu bersama dengan teman setianya, seonggok motor jupiter z yang memiliki rupa tak begitu jauh dari pemiliknya, minimalis.
Sepanjang sejarah sadel motor Agus, belum pernah ada cerita yang mengisahkan seorang wanita sudi untuk berboncengan dengannya. Sudah dapat dipastikan bahwa para wanita tak ingin menyerahkan bokongnya untuk duduk di jok motor minimalis itu.
Agus meminggirkan motornya di Jalan Simanjuntak, di depan sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Ada getaran di dalam saku celananya, getaran yang terasa begitu geli untuknya. Ia merogoh saku celananya agak dalam. Diambilnya sebuah ponsel berukuran sedikit besar dari ponsel pada umumnya di zaman sekarang. Nokia 6600, ponsel yang dapat digunakan untuk gaman menghadapi anjing gila yang ingin menerkam kaki pencuri mangga tetangga. Ponsel itu digenggam diantara jemarinya. Matanya sibuk membaca tulisan yang terkirim di dalamnya. Mata yang melirik lemah seperti orang yang berjalan dari kiri ke kanan.
![]() |
| Hipwee.com |
Gus, aku lagi ning Jogja. Saiki lagi ning dalan sing akeh banget wong mlaku, akeh lampu-lampu koyo ning kota. Tur mobil-mobil mlaku searah, ning kene yo akeh banget dokar. Aku ra mudeng iki ngendi. Koe reneo yo.
"Mentolo ngemut batukmu Gon. Yogjo lak yo ncen kota. Meneh nek koe ning Malioboro." Gerutu Agus setelah membaca pesan dari kawannya, Gonto.
Gonto merupakan kawan karib Agus di kampung, kemana pun mereka pergi, mereka selalu bersama seperti pengantin baru, tapi bedanya mereka sama-sama punya pedang. Perawakannya tak berbeda jauh dengan Agus, rambut hitam, dengan muka minimalis. Tapi keunggulan Gonto ada satu, giginya sedikit lebih pede dari pada bibirnya. Meski begitu, Agus sering dibuat jengkel oleh Gonto karena tingkahnya yang ga jelas, seperti saat ini, tiba-tiba saja dia sudah sampai di Jogja selayaknya orang ngelindur.
Agus memacu motor jupiter z sedikit malas, hampir beriringan dengan kayuhan bapak tukang becak. Sungguh tak tau diri bila Agus memiliki niat untuk adu kecepatan dengan bapak tukang becak. Akan tetapi motor yang jarang dirawat itu tak dapat berlari sekencang Usain Bolt, karena ketika motornya dipaksa berlari cepat, pasti ia akan kentut berwarna putih di sepanjang jalan. Bahkan roda belakang motor Agus terlihat seperti sedang berjalan diatas catwalk, geyal-geyol.
![]() |
| Tokopedia |
Ada satu hal yang menarik dari Agus. Kemana pun ia pergi, ia selalu mengenakan alas kaki yang bermerk swallow warna biru. Ia pernah cerita ke Gonto, bagaimana pun juga hidup sederhana dirasa lebih enak dan menyenangkan dari pada hidup sok berada. Toh alas kaki itu jarang diperhatikan betul oleh orang lain, jadi tak sepatutnya kalo kakinya mengenakan alas yang lebih mahal dari biaya makannya.
"Pakdhe, nitip motor yo?" teriak Agus sambil melambaikan tangan kepada bapak-bapak diujung gang sekitar malioboro mall sesaat setelah berada di parkiran motor.
"Ho'oh!" jawab bapak-bapak dengan mengacungkan jempolnya.
Dengan sedikit terburu, Agus meninggalkan motornya dan berjalan menuju ramainya Malioboro. Ia kembali mengambil ponselnya dari saku untuk menelpon Gonto.
"Gon, koe ki ngendi e?"
"Anu Gus, aku iki bingung lagi ngendi."
"Welah bajigur, mentolo misui koe nek ketemu Gon. Marakne aku bingung wae."
"Ha piye e Gus? Sek-sek aku meh takon uwong. 'Mbak-mbak, mau nanya. Ini sekarang dimana ya?'"
"Asu og koe ki Gon, takonmu ra cetho."
"Anu Gus, jarene mbak e mau, aku saiki lagi ning ngarep benteng van-den-berk."
"Wasu, adoh tenan i. Aku ning sebelah malioboro mall e, koe rene wae piye Gon?"
"Aku lak ra mudeng e Gus. Koe wae reneo, cepet!"
"Wo konco edyan og koe ki, nyusahke tenan."
Agus berjalan menghampiri Gonto di depan benteng. Dengan sumpah serapah ia berjalan cukup jauh keujung Jalan Malioboro sendirian untuk menemui temannya yang ngelindur main ke Jogja.
"Gus, Agus!" teriak Gonto sambil melambaikan tangan.
Agus yang mendengar panggilan itu menoleh ke sumber suara, ia tidak segera menghampiri suara itu. Tetapi ia geleng-geleng dan melihat berulang kali pakaian yang dikenakan oleh orang yang memanggilnya.
"Gus, koe budeg po?"
"Cuk, koe meh tamasya ro cah TK po? kocomoto ireng, frame kuning, klambi polkadot warna merah putih, celono warna biru muda, tas gambar iron man. Ancuk tenan, ngisin-ngisini aku Gon, Gon!"
"Rasah sambatan, ayo terke aku ng kos mu!"
"Jaran ucul og koe ki Gon."
Dengan muka tertekuk lusuh, Agus berjalan dengan Gonto menuju parkiran motor yang terletak cukup jauh. Bertemu kawan harusnya menjadi momen menyenangkan, tapi ini malah menjadi momen yang menyebalkan.
Setelah sampai di parkiran, Agus menoleh ke kanan kiri untuk mencari dimana letak motornya. Karena parkiran telah dipenuhi oleh motor yang lain. Tiba-tiba, ada seorang lelaki datang menghampirinya dengan muka penuh senyum.
"Mas, motorku sing megapro yo." sambil mengulurkan uang lima ribuan ke arah Agus.
Agus diam lalu melihat barang yang melekat dibadannya; kaos oblong warna hitam, celana agak lusuh yang sedikit menutupi lutut, dan sandal japit warna biru.
"Ancuk, mbok pikir aku tukang parkir?" muka Agus memerah.
"Hahahahaha, ngono mau koe ngeloke klambiku koyo cah TK tamasya. la koe koyo kang parkir." ejek Gonto
"Entah seberapa banyak harta yang kamu miliki, tak usah hidup sok mewah. Karena sejatinya hidup sederhana lebih enak dan tentram." -Alm. Fajar Maulana Ahmad-

