![]() |
| Dokumen Pribadi |
Jam tangan hitam melingkar di pergelangan tangan kiri seorang lelaki muda. Dengan rambut hitam mengkilap, kulit sawo matang, tubuh tegap dan perawakan setinggi tiga perempat gawang pintu rumahnya. Lelaki itu bernama Munawir, nama yang diberikan oleh orang tuanya setelah beberapa hari dilahirkan di dunia. Ia merupakan mahasiswa baru yang akan merantau untuk menimba ilmu dan menghabiskan waktu di Kota B di Pulau Jawa.
Hari kamis, saat matahari baru menunjukkan sinarnya, Nawir mengangkat pergelangan tangan kirinya, pandangannya jatuh pada jarum jam yang menunjukan pukul tujuh. Ia harus berangkat ke Kota B untuk mengikuti rangkaian acara kampus yang diperuntukkan bagi mahasiswa baru keesokan harinya. Sebelum itu ia bergegas untuk mengemas satu ransel berukuran sedang berwarna hitam. Ranselnya terlihat begitu sesak dan berat, entah apa isi di dalam ranselnya.
Ketika Nawir menginjakkan kaki di tanah parkiran depan stasiun, suasana sekelilingnya begitu riuh khas stasiun kereta: suara peluit kondektur kereta, pusat informasi yang mengabarkan kedatangan dan keberangkatan kereta, riuh suara peluit tukang parkir yang bingung memarkinkan kendaraan, hingga ramainya suara lalu lalang orang di stasiun.
Pukul sebelas lebih sebelas menit di hari yang sama, Nawir menyodorkan selembar karcis dan kartu identitas kepada petugas stasiun. Sebelum itu, ia mencium serta melambaikan tangan kepada bapaknya yang telah mengantar ke stasiun sebagai salam perpisahan.
"Terima kasih." ucap Nawir disertai senyum saat menerima karcis dan kartu identitasnya kembali dari petugas stasiun. Petugas stasiun hanya membalas dengan senyum kecil. Mungkin ia dibayar untuk menunjukkan raut wajah wibawanya.
Nawir melenggang kedalam bagian stasiun. Seperti pada umumnya stasiun di Jawa. Bangunan tua warisan Belanda masih kuat dan kokoh untuk menjadi saksi bisu dalam sejarah. Bangunan yang mungkin menyaksikan bagaimana pribumi di perlakukan tak adil oleh penjajah pada zaman dahulu seolah bercerita kepada remaja seusia Nawir.
Langkah kaki Nawir berhenti beberapa jengkal dari garis kuning hitam di bibir rel kereta. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat dimana kereta yang akan membawanya berada. Di jalur dua, terlihat ada delapan gerbong dan satu lokomotif kereta yang akan membawa Nawir ke Kota B.
Kursi nomor 12 E, gerbong lima. Nawir telah berdiri disamping kursi yang tertulis di dalam karcis yang ia pegang. Nawir duduk di bangku yang berisikan empat orang, dua orang saling berhadapan. Sedang dua kursi yang menghadap ke arahnya telah di isi oleh seorang pria beruban dan seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan potongan rambut seperti aparat. Nawir menaksir bahwa lelaki muda itu masih seusianya, sedang pria disebelahnya diyakini sebagai bapaknya. Karena mereka terlihat mirip.
"Permisi pak." Tegur Nawir sekedar basa-basi untuk meletakkan ranselnya diatas kepala pria beruban itu.
Setelah Nawir duduk dihadapan pria beruban tadi. Kini pria itu menanyakan kota yang akan dituju oleh Nawir dengan muka sedikit meremehkan.
"Kota B pak. Sedang bapak mau kemana?" Jawab Nawir berusaha ramah, meski hati kecilnya telah berbisik tak enak terhadap pria beruban ini.
"Masnya ini mahasiswa? semester berapa?" Pria beruban itu tak menjawab pertanyaan Nawir.
"Iya pak, saya masih mahasiswa baru."
"Ooh masih mahasiswa baru, di kampus mana mas?"
"Kampus swasta sih pak."
Pertanyaan menjemukan itu terhenti karena pramusaji kereta api menawarkan berbagai makanan dan minuman, makanan dan minuman itu tidak gratis tentunya.
Nawir melenggangkan pandangannya keluar jendela, hijau hamparan padi menyejukkan matanya. Sedang jauh di ujung pandangan terdapat gunung raung yang berdiri dengan gagahnya.
"Oh kampus swasta ya mas, gagal seleksi yang di kampus negeri mas?" tanya pria beruban sedikit ketus, yang seketika membuyarkan pandangan Nawir keluar jendela.
"Eh iya pak. Bapak mau kemana?" tanya Nawir untuk mengakhiri pertanyaan yang dirasanya terlalu basi.
"Ini, saya mau mengantarkan anak saya. Dia diterima di sekolah perkeretaapian. Dia sudah berusaha mati-matian dari tahun lalu. Padahal saya sudah bilang kalo kuliah saja daripada dirumah ga ada kerjaan, tapi dianya gak mau dan belajar siang malam untuk mendapatkan yang di dapatkannya sekarang."
Nawir hanya mengiyakan dengan wajah melongo karena tak bertanya banyak tentang jawaban pria beruban tadi. Dari sudut muka Nawir terlihat bahwa ia sedikit menyimpan rasa sebal.
"Mas, kuliah di kampus swasta habis berapa?" selidik pria beruban.
Dalam senyum Nawir, sebenarnya hatinya menyumpah serapah pria ini. Ia tak suka dengan cara pria beruban ini bertanya. "Ya lumayan lah pak."
"Orang tua kerja apa mas?"
Demi tuhan, bila orang ini bukanlah orang tua, akan ku bantah dan ku tinggal pergi, gerutu Nawir dalam hati. "Ee, guru pak."
"Udah PNS atau masih honorer mas?"
Bajingan! umpat Nawir dalam hati. Nawir masih mencoba menyematkan senyum disudut bibirnya. "Alhamdulillah sudah PNS dari puluhan tahun lalu pak."
"Saya tau bagaimana perasaan orang tuamu mas, hidup serba pas-pasan tapi berusaha sekuat tenaga untuk membiayaimu kuliah. Mas ini anak ke berapa?"
Demi apapun, apa mau orang ini bertanya begini tidak pentingnya. "Anak terakhir pak."
"Masih mending kalo begitu, kakakmu sudah selesai kuliahnya?"
"Sudah pak." Air muka Nawir mulai mengkerut menahan amarah.
"Kalo kuliah yang sungguh-sungguh mas, anak zaman sekarang banyak yang gatau diuntung. Sudah syukur bisa kuliah dengan biaya orang tua yang berjuang mati-matian untuk anaknya. Eh anaknya malah gleca-glece. Tahun ini kuliah di kampus swasta, lalu tahun depannya mau mencoba seleksi lagi. kalo diterima, kampus swastanya ditinggal. dipikir orang tuanya tinggal ngeruk duit? Anak saya itu, tahun lalu bukan gak masuk seleksi kampus negeri, tapi dia punya target mau jadi aparatur negara tapi belum rejekinya aja. Terus aku tawarin untuk kuliah, dia gak mau katanya gamau buang-buang duit kalo niat hatinya ga sepenuhnya untuk kuliah, pas keterima di kampus swasta terus tahun depannya ikut seleksi lagi kan sayang. Semua itu buang-buang uang."
Amarah Nawir meledak dalam kerongkongan. Ia tak akan mungkin untuk mengatakan apapun seenanknya kepada pria beruban ini, meski ia sangat tersinggung dengan ucapannya. "Ehe, iya pak."
Nawir sedikit membuang muka ke arah jendela, karena ia tak mau dihakimi lebih jauh. Dari pada kerongkongannya terbakar hingga hangus dan akhirnya amarahnya sampai ketelinga pria beruban itu malah tidak sopan.
"Mas, jauh sekali ya kalo kuliah. Saya aja yang ngantar anak saya ke kota M saja sudah merasa lelah, apalagi orang tua masnya nanti kalo pengen menjenguk."
"Hehe, bisa saya maklumi pak. Bapak sudah tak lagi muda, jadi wajar saja kalau ngerasa lebih cepat lelah. Lagian, orang tua saya kalo menjenguk pakai mobil pribadi biar lebih fleksibel kok." Jawab Nawir dengan senyum ramah yang bercampur sinis.
Air muka pria beruban kini merah padam mungkin karena perkataan Nawir. Sedang Nawir, kembali melihat keluar jendela. Dalam hatinya, ia memikirkan kembali apa yang dikatakan pria beruban di depannya ini. Ada benarnya juga apa yang dikatakannya, bersungguh-sungguh dan harus bertanggungjawab atas apa yang telah diputuskan, itu memang sebuah hal yang sangat penting. Tapi bagaimanapun, Nawir membenci cara pria beruban itu menasehati.
Sedang kereta api terus melaju membelah hamparan sawah dan perumahan tanpa ragu. Seperti yang ada dipikirannya, bahwa kereta ini terus melaju diatas rel dengan kondisi cuaca panas maupun hujan. Karena semua itu merupakan keputusannya, sedang sekarang kewajibannya mengantar setiap penumpang yang ada dalam gerbongnya ke stasiun yang mereka tuju.
