![]() |
| Foto: GoodNewsFromIndonesia |
Bulan Oktober tahun lalu masih di iringi oleh terik panas matahari. Debu berterbangan dibawa oleh kendaraan yang lalu lalang juga angin yang bertiup kencang. Di setiap lembar daun yang hidup dipinggir jalan terdapat debu yang kelelahan karena terus menggulung dan berputar di udara. Matahari yang pada awalnya disambut bahagia oleh petani desa karena akan memudahkan mereka untuk mengeringkan padi, namun lambat laun semua orang desa mengeluh karena sumur mereka mulai kering kerontang dan ladang mereka tak dapat ditumbuhi tanaman.
Seharusnya Oktober menciptakan mendung yang mulai menggulung, partikel hujan mulai melekat bersama awan mendung yang terbang tinggi dan melayang mengitari sekitaran daratan yang tandus. Seharusnya mendung sesekali menitikan air untuk membasahi bumi untuk menciptakan aroma khas saat hujan datang dan menggenang.
Petani mulai frustasi, karena hujan tak kunjung datang untuk menyambang. Mereka mulai berdamai dengan alam dan memilih pasrah akan kapan datangnya hujan. Satu hal yang mereka sadari, alam sudah tak lagi seperti dulu. Bumi sudah mulai menua dan susah untuk diprediksi. Siapa yang salah? tak perlu ditanya agar semua introspeksi diri.
Agus, merupakan anak sulung dari tiga bersaudara salah satu petani desa. Ia hidup sederhana karena memang kesederhanaan yang ia punya. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam sehari selain sekolah, mulai mengembala kambing hingga membantu bapaknya untuk membersihkan rumput diantara tanaman padi pun biasa dilakukannya.
Rumahnya yang berada di desa, berdekatan dengan hamparan tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar berwarna kuning kecoklatan yang menjadi alasan bapaknya Agus untuk memebeli dua puluh ekor kambing sesaat setelah panen raya tiba. Pastinya Agus yang akan dipasrahi untuk menjaga dan memberi makan kawanan kambing itu di tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar yang terletak tak jauh dari rumahnya. Karena hujan tak kunjung datang, bapaknya Agus tak memiliki pilihan lain untuk menjual tiga ekor kambing untuk menyambung hidup keluarganya. Dua kambing jantan dan satu kambing betina telah dijual di pasar hewan. Tersisalah delapan belas ekor kambing yang dimiliki saat ini.
Suwiryo, merupakan adik kandung Agus. Anak kedua dari tiga bersaudara di keluarga salah seorang petani desa. Ia masih duduk di bangku kelas satu SMP, terpaut dua tahun dengan Agus. Semenjak bapaknya membeli kawanan kambing, Agus selalu mengajak adiknya untuk menemaninya mengembala kambing di tanah kosong yang sering disebut oro-oro.
"Wir, ayo mengko sore angon wedhus ing oro-oro koyo biasane."
"Ayo mas, tapi ojo lali gowo layangan yo mas, bene ra tingak-tinguk ngewasne wedus."
"Ho'o, gampang. Pokok koyo biasane wae."
Bermain layang-layang tatkala kemarau panjang tiba merupakan hal biasa bagi warga desa. Permainan tradisioanl yang tak mengenal usia ini begitu banyak digandrungi oleh orang desa. Setiap sehabis adzan duhur berkumandang, suara khas layangan akan meramaikan telinga.
Kebetulan, Agus dan Suwiryo merupakan anak yang gemar sekali bermain layangan. Sejak kecil, mereka berdua piawai bermain layang-layang. Bahkan bisa dikatakan bahwa mereka berdua sebagai pemain layangan yang ulung. Hingga suatu saat Suwiryo pernah mengatakan kepada Agus bahwa ia ingin menjadi pilot karena obsesinya terhadap layangan. Ia ingin terbang seperti burung dan mengendalikan pesawat seperti saat ia menerbangkan dan mengendalikan layangan agar tidak jatuh.
Karena kepiawaiannya dalam membuat dan menerbangkan layangan, nama Agus dan Suwiryo banyak dikenal oleh para pemain layangan diantero desa. Banyak orang yang memesan dan membeli layangan milik Agus maupun Suwiryo. Mereka berdua dapat membuat layangan berbagai bentuk, seperti; layangan yang berbentuk orang, naga, kupu-kupu atau bahkan layangan berbentuk burung elang dapat mereka buat. Dari situlah Agus dan Suwiryo mendapatkan uang jajan yang lebih.
![]() |
| Foto: kanal youtube Layangan Sawangan Madura |
Hari ini, Agus dan Suwiryo membawa layangan yang biasa disebut oleh warga desa dengan nama kuntulan. Bentuk yang mirip dengan foto diatas namun bagian bawah menyerupai bentuk love namun sedikit agak lonjong. Entah mengapa warga desa menamakan layang seperti itu sebagai layangan kuntulan.
Oro-oro saat musim kemarau berubah menjadi arena untuk orang-orang yang ingin menerbangkan layangan, karena angin yang kencang dan tidak ada hambatan apapun, yang memudahkan untuk menerbangkan layangan. Mereka juga biasa saja jka menerbangkan layangan terdapat banyak kambing yang berkeliaran untuk memakan rumput, seolah mereka sudah paham bagaimana berbagi tempat antara peliharaan dengan manusia.
Saat matahari berada di sudut empat puluh lima derajat, layangan Agus dan Suwiryo telah terbang tinggi dan menampakkan keelokannya. Sedang kaming mereka sibuk untuk mengunyah rumput dan mengeluarkan feses yang berbentuk bulat seperti biji kopi di sembarang tempat. Nampak dari kejauhan ada seorang bapak-bapak dan seorang bocah lelaki yang ditaksir sekitar umur enam tahun sedang mengendarai sepeda menuju kearah Agus dan Suwiryo bermain layangan. bocah itu melangkah kecil namun pasti sembari matanya tertuju pada layangan Agus dan Suwiryo.
"Mas Agus, mas Wiryo. Kui jenenge layangan opo?" tanya bocah lelaki tadi.
"Oalah, iki jenenge layangan kuntulan." jawab Agus.
"Di dol ora e mas?"
"Wah, iki wae nembe dadi iki mau."
"Tak tukune wae mas."
"Wah, sesok wae tak gawekke piye?"
"Emoh, pokok aku geleme layangan kui."
"Waduh."
"Tak tukune seket ewu, oleh ra mas? aku diwei duit ro bapakku seket ewu iki." sambil menunjukkan uang berwarna hijau kepada Agus dan Suwiryo.
"Weladalah, bocah. Kui duit rong puluh ewu ngger. Nek mbok tuku seket ewu, yowes rapopo."
Bocah lelaki tadi lari ke arah bapaknya untuk meminta uang lagi, karena uang yang diberikan oleh ayahnya kurang.
"Bapak, tumbaske aku layangan kontol wek e mas Agus!" teriak bocah lelaki kepada bapaknya.
Agus menoleh bengong dan bingung ke arah Suwiryo saat mendengar teriakan bocah kecil tadi.
"Mas, koe koyone salah omong deh."
"Ora wir, aku mau ngomong kuntulan kok. La ngopo bocah kae ngomong kontol yo? mosok cah cilik wes salewang?"
"Lha mbuh mas." jawab Suwiryo dengan tatapan kosong dan melihat bocah lelaki tadi nangis karena dimarahi ayahnya.

